ETHICAL
EGOISM
Ethical Egoism menegaskan bahawa kita tidak harus
mengabaikan secara mutlak kepentingan orang lain tetapi kita patut
mempertimbangkannya apabila tindakan itu secara langsung akan membawa kebaikan
kepada diri sendiri. Ethical Egoism adalah berbeza dengan prinsip-prinsip moral
seperti sentiasa bersikap jujur, amanah dan bercakap benar. la kerana tindakan
tersebut didorong oleh nilai-nilai luhur yang sedia ada dalam diri manakala
dalam konteks ethical egoism pula sesuatu tindakan adalah didorong oleh
kepentingan peribadi. Misalnya, seseorang individu yang memohon pinjaman akan
memaklumkan kepada pegawai bank tentang kesilapan pihak bank bukan atas dasar
tanggungjawab tetapi kerana beliau mempunyai kepentingan diri.
Teori Ethical Egoism, teori ini hanya melihat
terhadap si pelaku sendiri. Teori ini mengajarkan bahwa benar atau salah suatu
perbuatan yang dilakukan oleh seseorang diukur dari dampak baik atau buruk yang
ditimbulkan oleh perbuatan terhadap orang itu sendiri (Munir Fuady, 1999;19).
Kategori
etikal
1. Individual
Melakukan perkara berfaedah untuk kepentingan diri.
2. Personal
Tindakan yang perlu dilakukan untuk kepentingan
seseorang
3. Universal
Semua orang perlu bertindak pada jalan berfaedah untuk
diri sendiri
Contoh
etikal egoisme
·
Menyelamatkan
mangsa lemas – walaupun perkara ini adalah membahayakan diri sendiri namun
demikian ganjaran dalam bentuk wang atau penghormatan dalam memotivasikan
individu dalam melaksanakan perkara tersebut.
·
Pergi ke
luar negara untuk membantu mangsa peperangan – walaupun perlu mengorbankan masa
dan tenaga namun oleh kerana ganjaran dan tajaan yang disediakan oleh pihak
tertentu maka seseorang dapat melaksanakan perkara ini.
RELATIVISME
Pernyataan tentang relativisme pertama kali muncul
dari filosof sophis, Protagoras (490-420 BC) lima ratus tahun sebelum Masehi.
Pernyataan Protagoras dikutip oleh Plato: “The way things appear to me, in
that way they exist for me; and the way things appears to you, in that way they
exist for you”(Theaetetus 152a). Maksud kata-kata Protagoras demikian:
sesuatu nampak di hadapanku dalam caranya yang khas, dan dalam cara yang khas
itu pula sesuatu ada untukku; demikian juga apabila kamu berhadapan dengan sesuatu,
sesuatu itu secara khas ada untukmu. Kalimat Protagoras ini mengandaikan satu
dua prinsip sederhana untuk mengertinya. Yaitu, prinsip yang pertama, setiap
pengetahuan atau pengenalan (knowledge) selalu merupakan pengetahuan atau
pengenalan akan sesuatu (thing). Prinsip kedua, setiap pengetahuan berasal
dari pengamatan inderawi (as it appears to me). Pengetahuan saya mengenai
langit, i.e., bahwa langit itu biru, memiliki introduksi instrumen inderawi
saya (mata) yang menangkap penampakan langit sebagai demikian.
Relativisme
Etika
Relativisme protagorasian paling terkenal dalam ranah
etika. Relativisme etis berarti segala apa yang kita maksudkan nilai baik
selalu memiliki rujukan. Baik itu relatif, berkaitan dengan referensi dan
relasinya dengan sudut pandang konteksnya. Baru-baru ini saya melakukan
perjalanan tugas bersama para rektor APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta)
ke Cina. Di dalam bus yang nyaman, guide yang ramah selalu menemani kami
dengan banyak informasi tentang negeri Cina yang mengalami kemajuan pesat. Dari
banyak kemajuan, pemandu wisata bercerita juga tentang ledakan penduduk dan
kesulitan serius yang dihadapi Cina. Ia berkata demikian: “Di sini keluarga
dibatasi untuk punya anak hanya satu. Pembatasannya secara konkret direalisasikan
dalam hukum yang tegas. Maka, jika di Hongkong aborsi diancam sanksi hukum, di
sini banyak orang kalau tidak melakukan aborsi, setelah anak pertama lahir,
justru akan dikenai sanksi hukuman tidak ringan.” Kisah tentang aborsi ini
menarik untuk disimak. Jelas bahwa aborsi sebagai tindakan mematikan manusia
(janin) merupakan tindakan yang melanggar moral. Tetapi, dalam ranah konteks
Cina, aborsi nampak mengalami pergeseran penilaian moral. Sekurang-kurangnya
itu yang saya dengar dari guide kami. Uniknya, ketika saya bertanya kepada
rekan-rekan rektor, halnya seperti tidak menjadi isu penting untuk dibahas dan
diprihatini.
Sumber:
http://alamandausm.blogspot.co.id/2014/01/teori-egoisme_7.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar